Selasa, 28 Mei 2013

Pewarisan Budaya Masa Lampau

Sejarah masa lalu hingga kini dapat kita nikmati melalui pembelajaran sejarah. Hal ini tentu tidak lepas dari bagaimana cara orang orang dulu mewariskan momentum sejarah mereka. Jejak sejarah yang mereka tinggalkan  bisa dipelajari karena mereka mewariskan tradisi tradisi yang mungkin masih ada hingga sekarang.
Masyarakat masa lampau yang belum mengenal  mewariskan masa lampaunya dengan cara sebagai berikut:
1.       Pelatihan dan peniruan. Para orang tua masa prasejarah menurunkan kepada anak mereka cara untuk hidup mungkin melalui pelatihan dan peniruan. Mereka mewariskan antar generasi cara membuat alat alat, cara berburu, beternak, dan lainnya.
2.       Penuturan. Maksudnya menurunkan secara lisan. Kemampuan tersbut diwariskan dengan cara dituturkan kepada generasi selanjutnya.
3.       Hasil karya. Walau belum mengenal tulisan namun mereka telah mampu membuat barang barang yang berbudaya. Dari sinilah dapat diketahui pola hidup dan kehidupan masyarakat tersebut.
Jejak Sejarah Masa Lampau
1.       Folklore
Folklore adalah tradisi dan kesenian yang berkembang pada zaman sejarah dan menyatu dalam masyarakat. Di setiap daerah ada folklorenya masing masing dan menjadi keragaman dalam suatu negara terutama indonesia. Folklore diwariskan secara turun temurun.
Ciri ciri folklore:
a.       Milik bersama dari kelompok tertentu. Hal ini dikarenakan pembuat karya tersebut tidak diketahui sehingga menjadi milik kolektif.
b.      Penyebarannya secara lisan melalui tutur kata, isyarat, atau lainnya.
c.       Anonim, pembuatnya tidak diketahui.
d.      Terdiri dari beberapa versi berbeda karena penyebarannya secara lisan hingga mudah berubah.
e.      Tradisional
Bentuk Bentuk Folklore:
-          Folklore Lisan
a.       Puisi Rakyat
b.      Teka teki/pertanyaan tradisional
c.       Bahasa rakyat/logat
d.      Ungkapan tradisional
e.      Prosa/cerita rakyat
-          Folklore sebagian lisan
Maksud sebagian lisan disini adalah campuran budaya lisan dan yang bukan lisan, misalnya cerita rakyat yang dibarengi dengan takhayul, ada juga kepercayaan rakyat, dan permainan rakyat,dll.
-          Folklore bukan lisan
Maksudnya adalah folklore yang disampaikan secara lisan namun bentuknya bukan lisan seperti arsitektur bangunan, kerajinan, dll.
2.       Mite
Mite atau mitos adalah cerita rakyat yang dianggap benar benar terjadi dan suci. Mite ini selalu dibumbui dengan tokoh setengah dewa. Mitos yang terkenal diantaranya adalah mite Yunani kuno, cerita dewa dewa di gunung Olympus, Nyi Roro Kidul, Dewi Sri, dll.
3.       Legenda
Legenda mirip dengan mite karena dianggap benar benar terjadi namun tidak dianggap suci. Legenda ini menceritakan tentang kejadian luar biasa dan seringkali dianggap gaib, dan menjadi sejarah kolektif.
Legenda dapat dibagi menjadi:
1.       Legenda Keagamaan, contohnya wali songo
2.        Legenda Alam Gaib, misalnya peri, makhluk halus
3.       Legenda Perorangan, contohnya Jayaprana, Si Pitung, dll
4.       Legenda setempat, seperti Sangkuriang, asal nama Banyuwangi, Surabaya, dll.
5.       Lagu
6.       Upacara Adat

Tradisi Sejarah Masa Aksara
Peninggalan sejarah pada masa aksara banyak berbau religius karena banyak peninggalan merupakan peninggalan setelah masuknya agama agama tertentu seperti di Indonesia aksara mulai dikenal sekitar abad 5 dari Kerajaan Kutai yang sudah menganut agama Buddha. Penulisan sejarah di dunia muncul awalnya berbentuk puisi karya Homer yang menceritakan cerita cerita lama. Penulisan yang berbentuk prosa baru muncul pada tahun 6SM di Ionia, namun sebelum itu telah muncul penulis penulis terkenal seperti Herodotus, Thucydides, dan Polybius.
Selain di Yunani penulisan kuno juga dilakukan oleh bangsa Romawi. Penulis penulis Romawi yang terkenal adalah Julius Caesar yang menceritakan tentang bangsa Galia dan pembelaannya mengenai perang tersebut, Sallustius adalah monografi dan biografi, dialah yang awalnya menulis sejarah dengan tidak memihak, Livius adalah pencerita yang hebat dan cenderung mengorbankan fakta demi cerita yang menarik, sedangkan Tacitus adalah penulis Annals, Histories, dan Germania.
Penulisan di Eropa mulai berubah pada The Dark Age dimana penulisan lebih banyak berkisah mengenai keTuhanan. Pada masa ini muncul Annals (catatan peristiwa penting dalam kalimat pendek), Chronicles (Annals dalam lingkup yang lebih luas.
Perubahan juga terjadi pada masa Renaissance, reformasi gereja, dan nantinya abad 19-20 akan muncul sejarah kritis dan sejarah baru.
Perkembangan Penulisan Sejarah di Indonesia
Penulisan sejarah di Indonesia memiliki metode sebagai berikut: heuristik (pencarian sumber), kritik, interpretasi, dan historiografi (penulisan).  Historiografi sendiri dibagi menjadi tiga, yaitu:
1.       Historiografi Tradisional
Historiografi ini biasanya dilakukan oleh kerajaan kerajaan kuno dan ditulis oleh pujangga atau pejabat pencatat lain. Bentuk historiografi tradisional diantaranya adalah babad, hikayat, dll.
Ciri ciri:
a.       Religio Sentris/Istana Sentris, ceritanya berpusat di istana dan keluarga kerajaan.
b.      Feodalistis-aristokratis, tidak memuat cerita mengenai rakyat dan kehidupannya, hanya kehidupan bangsawa feodal.
c.       Religio magis, seringkali dihubungkan dengan hal hal gaib.
d.      Tujuan penulisannya adalah untuk meninggikan raja tersebut agar tetap dipatuhi dan dijunjung oleh rakyatnya.
e.      Regio-sentris, kedaerahan, menceirtakan keadaan daerah tersebut saja
f.        Raja/pemimpin dianggap sakti
2.       Historiografi Kolonial
Historiografi ini sudah masuk ke dalam masa penjajahan belanda. Penulis penulisnya adalah orang orang Belanda yang menulis berdasarkan arsip di Belanda dan Jakarta, umumnya penulisannya mengabaikan sumber dari Indonesia.
Penulisan HK lebih pada Eropa-sentris atau Belanda-sentris karena lebih banyak menceritakan aktivitas kolonial di Indonesia dan mengabaikan aktivitas rakyat
3.       Historiografi Nasional
Penulisan sejarah nasional yang cukup bebas terjadi pada masa setelah kemerdekaan. Penulisan ini memfokuskan pada keadaan di indonesia dan masyarakatnya baik politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Ciri ciri:
a.       Pembangunan karakter bangsa dan negara
b.      Indonesia-sentris
c.       Sesuai dengan pandangan hidup bangsa Indonesia
d.      Ditulis oleh penulis Indonesia.
Perkembangan Penulisan di Indonesia
Penulisan sejarah di Indonesia berkembang dari waktu ke waktu, dari penulisan yang tradisional, berpusat pada penjajah, dan berpusat pada rakyat. Selain itu juga penyempurnaan metodologi perlu untuk dilakukan. penulisan yang asalnya hanya berdasarkan arsip dan mengabaikan interpretasi lama kelamaan ditinggalkan.
Sejarah pun akhirnya dibagi dua bagian besar, yaitu:
1.       Sejarah Lama (Old History)
a.       Sejarah Tradisional
b.      Mono dimensional
c.       Deskriptif naratif
d.      Ruangnya terbatas
e.      Tema terbatas
f.        Pelaku sejarah terbatas pada kalangan istana, pahlawan, atau jendral
g.       Tanpa pendekatan ilmu sosial.
2.       Sejarah Baru (New History)
a.       Sejarah Ilmiah, sejarah sosial ilmiah, sejarah total
b.      Multi dimensional, melihat peristiwa tidak hanya dari satu sisi
c.       Perlaku sejarah luas dan beragam
d.      Ruang Lingkup luas dan beragam, mencakup semua pengalaman dan peristiwa
e.      Tema Luas dan beragam mencakup politik, ekonomi, sosial, dll.
f.        Pemaparan analitis kritis, menggunakan kritik sumber dan interpretasi sendiri pada sumber yang didapat.
g.       Menggunakan pendekatan interdisipliner (banyak ilmu pengetahuan) yang relevan dalam menerangkan suatu peristiwa.
Sejarah di Tengah Konsep Ilmu Sosial
Sejarah kini adalah pengetahuan yang interdisipliner, berkaitan dengan ilmu ilmu pengetahuan lain dan tidak dapat berdiri sendiri. Konsep konsep ilmu lain inilah yang memungkinkan sejarah menjadi ilmu yang multidimensional atau dapat dilihat dari berbagai sisi dan interpretasi. Penggunaan ilmu lain ini tentu saja memakai bagian yang relevan dengan suatu peristiwa yang sedang dibahas itu. 
 
sumber :http://shouism.blogspot.com/2011/09/pewarisan-budaya-masa-lampai.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar